Jumat, 09 Maret 2012

Surat Cinta Untuk Ayah



Ayah, saat aku menuliskan ini, aku sedang duduk sendiri di bawah pohon pinus tepat dimana dulu kita menanamnya bersama, Dan sekarang tempat ini menjadi tempatku menuliskan setiap sepiku,  mengukir kepingan pilu yang sebagian terukir pada nisanmu dan sebagian lagi tersimpan pada pesona senja yang menghilang pada langit kelam. Senyum tulusmu serupa lengkung sabit perak diatas angkasa masih saja selalu menemani tidurku yang lelap menghias lembar hari dimana aku masih belum juga bisa berdamai dengan kerelaan.

Ayah, sampai saat ini aku masih mengeja dan meraba mengenali setiap rasa yang menjelma dalam setiap hariku. Aku mulai lelah berteman sunyi dalam kamar penuh debu, tembok dinding berlubang sesisa lukisanmu yang kini usang, terperangkap pada kelambu keheningan dan berada dalam ruang yang semakin pengap. Aku jenggah terus bersama dengan diri yang tak pernah mau mengerti dan menerima akan titah - Nya, sungguh aku masih merindukanmu.

Aku masih disini Ayah, masih tetap menahan bulir kristal yang tak henti menerobos benteng pelupuk mata, kembali memungut semua sisa kenangan kita dulu dengan memandangi langit senja dan mulai menanti hujan. Karena setelah hujan turun maka keindahan pelangi akan datang menggantikan hujan, itu yang dulu selalu ayah katakan saat aku mulai mengeluh dengan penatku.

Senja ini hujan turun dengan ritme lembutnya, suara indah rintik-rintik kecilnya jatuh pada seng usang penutup rumah kita tedengar seperti nyanyian malaikat kecil dengan biola mungil mereka. Suaranya syahdu mengalahkan sendu yang selalu merengkuh pilar-pilar sepiku akan kehadiranmu.

Ayah..Aku benci dengan waktu yang selalu tak bersahabat ini, waktu yang selalu memberi pemisah pada kita untuk saling bercengkrama. Aku juga benci dengan cerita-cerita mereka tentang kebahagian yang mereka dapatkan dari malaikat pelindung yang selalu mereka sebut ayah.

Aku ingin ayah selalu ada untukku, ada dalam setiap ceritaku dan ada tak hanya dalam mimpiku. Tapi aku tahu, Tuhan telah menuliskan semua ini dengan sejuta keindahan didalamnya, aku percaya bahwa Tuhan jauh lebih memahamiku dibandingkan diriku sendiri.

Ayah,akan kutitipkan rinduku pada deras hujan yang kan berganti dengan bias indah pelangi nanti untukmu. Aku sungguh merindukanmu, mengalahkan rindu padang tandus akan hujan.


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway The Fairy and Me yang diselenggarakan oleh Nurmayanti Zain





38 komentar:

  1. Ya Allah Ya Rabb..
    semoga beliau mendapatkan tempat di sisiNya
    jangan lupa untuk selalu mendoakan beliau :)
    sungguh sosok yang sangat berharga

    --------------------------
    sudah terdaftar sebagai peserta
    terima kasih atas partisipasinya ya widie ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin mbak :)
      amat sangat berharga,, selalu menjadi panutan kami sekeluarga

      iya mbak,,insyaallah akan terus mendoakan :)

      Hapus
  2. Jadilah pahala yang tidak akan terputus untuk neliau, InsyaAllah

    semoga sukses GA-nya ya. . .

    BalasHapus
  3. jadi ingat Ayahku yg sekarang tinggal pisah dgn ku... :(

    kata2nya bagus bgt...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih Nur :)
      tapi kan masih bisa ketemu sama ayahnya :)

      Hapus
  4. saya terharu membaca postingan ini, smoga Allah tempatkan beliau di jannatun nain ..aamiin ya rabb..sukses GA nya, salam kenal..

    BalasHapus
  5. Jangan sedih yaa Dandelion :'), Buktikan pada Ayahmu, kamu pasti bisa mewujudkan impianmu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih youko :)
      insyallah, akan terus berusaha :D

      Hapus
  6. Tetap tegar sobat ....
    Aku yakin anda bisa.
    Semoga beliau ditempatkan di tempat yang layak.
    Salah satu yang bisa membuat anda dekat dengan beliau adalah Doa anda yang tiada henti untuk beliau.
    Amin

    BalasHapus
  7. Terharu... Jadi ingat Ayah :'

    Btw, salam ukhuwah!

    BalasHapus
  8. Seperti teguran bagi kami yang masih punya ayah, agar tidak lupa berbakti padanya selama masih ada kesempatan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga dapat memberi yang terbaik selagi ayahnya masih ada Milati :)

      Hapus
  9. Aduh... bahasanya mendayu-dayu...
    Jadi ingat ayah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaa
      disesuaikan dengan irama hati #plakkk
      :)

      Hapus
  10. Wah, ikutan giveaway ya. Ikut giveaway aku juga dong hehe wahh kok #malahpromosi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaalah nanti coba ikutan kalau ada ide :)

      Hapus
  11. Ia selalu ada. Merasuk ke hatimu yang terdalam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaallah, akan selalu
      makasih mas wawan :)

      Hapus
  12. Wah .. indahnya. Hubungan yang akan selalu terkenang ...

    BalasHapus
  13. ayaaaahhhh. .. dimanakah nasib ku rindu. . . untukkk menunai padi milik kita. . ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga dapat dipertemukan dengan ayahnya kembali :)

      Hapus
    2. pagi bintang. . . . . :) masih tetep bersinar ndak nih. . .. ????

      Hapus
  14. Jadi pengen lekas-lekas pulang minggu-minggu ini.

    BalasHapus
  15. Rindu yang teramat sangat sama sang ayah yang sudah tiada ya sob. Pohon pinusnya pasti menjadi kenangan yang tak terlupakan karena ditanam bersama ayah tercinta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibunya sudah pernah diajak ke tempat pohon pinus yang menjadi kenangan belum sob? Sang ibu pasti mempunyai perasaan yang sama. Rindu pada sosok ayahmu sobat.

      Hapus
  16. Balasan
    1. orang tua memang sosok yg akan selalu dirindukan oleh anak2nya,,,
      ^_^

      Hapus
  17. TERHARU AKU...
    ayah ibuku jg udh tiada..
    salam knl, smoga menang ya

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...