Sabtu, 14 Mei 2011

Cerpen : penyesalan Terdalam


Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar
Kan kutunggu dirimu …
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi …
Suara alunan lagu indah dari kerispatih dengan volume tertinggi memenuhi isi kamarku. Awalnya aku sangat membenci lagu ini,bukan..lebih tepatnya mungkin tidak ingin mendengarkannya.entah kenapa setiap suara dari sammy melantunkan bait demi bait lagu ini terasa begitu menyakitkan untukku.setiap mendengar nya,ingin rasanya aku kembali ke tanah merah yang bersimbah dengan kembang wangi khas melati itu.
                                                                **************

“Akhirnya aku kesini juga” batinku
Kupandangi makam berukuran kira-kira 2 x 1,5 m yang bertuliskan nama “Sandi Renaldi”.seseorang yang dulu pernah mengisi hari-hari ku, bahkan seseorang yang mengajarkan aku sebuah rasa yang tulus, kedewasaan bahkan cinta.
“Sedang apa kamu disini?”
Aku mendongak melihat asal suara yang tiba-tiba menghempaskan semua lamunanku tentang sandi. Ternyata suara itu berasal dari ibu separoh baya disebelahku, aku berdiri dan menyalami tante Mirna, Ibu dari seseorang yang telah beristirahat dengan tenang dimakam ini.
“Sudahlah, tak perlu lagi kamu bersikap sok baik” ucapan tante Mirna terdengar penuh emosi sambil membuang tangannya dari tanganku, Aku paham benar mengapa tante Mirna begitu membenciku, disaat anak laki-laki satu-satunya telah meninggalkan dunia ini akibat kecelakaan yang secara tidak langsung akulah penyebabnya. Aku hanya mampu terdiam saat sorotan tajam tante mirna kembali tertuju padaku.
“Sampai kapanpun saya tidak akan pernah memaafkan kamu, kalau saja anak saya dulu tidak bertemu dengan kamu pasti dia sekarang tidak akan mengalami nasib seperti ini” kata-kata tante mirna terdengar bagai petir ditengah hari. Mungkin memang benar,seandainya saja dulu sandi tidak pernah meminta ku untuk menjadi pacarnya mungkin hal ini memang tidak akan pernah terjadi.

                                                              **************
Lagu kerispatih terdengar dari ponsel yang aku pegang, terlihat jelas dari layer LCD ponselku tertulis calling Sandy. Aku tersenyum dan dengan semangat aku menekan tombol berwarna hijau diponselku.
”Halo” sapaku lembut
”San lagi di Batam, jam 2 siang ini aku jemput disekolah. Ada yang mau aku omongin” aku mendengar jawaban seseorang diseberang sana yang terdengar dingin.
”Kok gak bilang kalau mau pulang, emang mau ngomongin apa?”j awabku dengan penuh tanda tanya dengan sikapnya
”Nanti aja, kalau kita udah ketemu kita bicarain..tuttttttttttt” aku terdiam mendengar jawaban terakhir Sandi yang tiba-tiba langsung memutuskan hubungan telpon secara sepihak.
Aku dan Sandi hampir satu tahun ini kami berpacaran, dia adalah kakak kelasku.Aku heran apa sebenarnya dan bagaimana perasaan Sandi terhadapku, Apa benar dia tulus menyayangiku. Sudah beberapa kali aku memutuskan hubungan kami, tapi dia tidak pernah mau. Padahal sebenarnya aku…


                                                                    **************
Aku tidak konsentrasi menyelesaikan pelajaran terakhirku disekolah. Jam di tanganku masih menunjukkan pukul 12.38, sambil kembali mengingat omongan terakhir Sandi ditelepon tadi, aku masih memikirkan hal apa yang akan dibicarakan Sandi sampai-sampai sikapnya sedingin itu. Biasanya saat dia berencana pulang dari Semarang, dia menyempatkan untuk memberi kabar, bahkan dia tidak pernah menutup telepon secara tiba-tiba seperti tadi.
Bel sekolah yang terakhir akhirnya terdengar juga, semua murid tak terkecuali dikelasku berhamburan keluar, bahkan ada yang sengaja saling dorong untuk mendahului satu sama lain. Aku segera menuju pagar sekolahku, aku lihat kembali jam saat ini 13:45, mataku tertuju pada cowok yang berdiri di seberang jalan dekat sekolahanku. Dengan menggunakan motor berwarna hijau yang tidak asing lagi bagiku, aku tersenyum melihatnya diseberang sana, tapi dia hanya membalas senyumku dengan datar. Aku mulai bingung dengan sikapnya, sambil melihat kendaraan disekitar yang sedikit sepi, aku menyeberang dan langsung menyapanya.

Dia langsung memberikan helm yang sengaja dibawanya untukku tanpa bertanya apa-apa. Dengan perasaan yang masih bingung dengan sikapnya, mau tidak mau aku menaiki motor hijaunya.
”Kita mau kemana” tanyaku berusaha mencairkan suasan yang sedikit kaku
”Kita ketempat biasa”jawabnya kembali singkat
Aku tahu, dan aku paham betul dia saat ini sedang menahan rasa kesalnya, karena biasanya dia gak akan pernah mau banyak bicara saat sedang kesal. Tapi pertanyaan paling besar didalam benakku, apa yang sudah aku lakukan sampai dia marah, sampai dia tidak memberitahukan kalau dia pulang hari ini dari Semarang, padahal belum liburan akhir semester.
Setelah lebih kurang 20 menit kami saling diam diatas motornya,akhirnya kami sampai juga ditaman tempat kami pertama jadian yang belakangan menjadi tempat favorite kami. Beberapa kali setiap aku dan sandi pulang sekolah,kami menyempatkan diri ketempat itu hanya untuk sekedar bercerita, tapi itu sebelum dia menamatkan pendidikan SMA nya dan melanjutkan kuliahnya ke Semarang.
Sandi memarkirkan motornya tak jauh dari tempat duduk kami dan memesan 2 minuman kaleng. Beberapa detik kami masih saling diam, dia menatapku dengan tatapan asing bagiku.
”Ada yang kamu tutupin dari aku, Din?”pertanyaannya menambah kebingunganku akan sikapnya
”Tutupin? Tutupin apa San?? Dina benar-benar gak ngerti maksud kamu”
Sambil menarik nafas panjang, dia kembali menatapku dengan tatapan asing tadi, tatapan yang benar-benar membuat aku tidak nyaman karena aku merasa dihakimi oleh tatapan itu.
”Tolong kamu jawab dengan jujur, apa benar kamu jadiin aku bahan taruhan dengan teman-teman kamu, berapa yang kamu dapat dengan memacari aku Din?”
Degg...

Jantungku terasa berhenti saat itu juga, mulutku mendadak kaku untuk menjawab semua pertanyaannya. Siapa yang memberitahu dia soal itu, semua tanda tanya bahkan perasaan yang aku rasakan sangat abstrak saat ini.
”Din,, tolong dijawab dengan jujur..apa benar??”nada suara Sandi terdengar sedikit tinggi dan penuh penekanan
”hemm..ma’af san...aa….kkuu…”
”Oke, itu udah cukup membenarkan” sandi langsung memotong pembicaraanku sebelum aku selesai menuruskan jawaban ku yang sedikit terbata-bata tadi.dan aku belum punya keberanian untuk melanjutkan semua kalimatku tadi.
”Cuaca udah mulai mendung, kita pulang aja Din”sambil berjalan menuju motornya, mau tidak mau aku mengekornya dari belakang.
Setengah perjalanan hujan pun mulai turun bahkan semakin deras, aku dan sandi berteduh di antara ruko-ruko yang berjajar dipinggir jalan. Terasa begitu dingin karena seragam sekolahku sudah kehujanan.
Tau mau hujan gini,aku ikutin saran mama untuk bawa jacket” batinku
Aku melipat kedua tanganku bersilang dan mengusap-usap kedua lenganku untuk mengurangi rasa dingin yang semakin dingin dengan sikapnya yang tak mau banyak bicara lagi denganku. Tiba-tiba Sandi membuka jacket yang pernah aku berikan sewaktu dia akan berangkat pertama kali untuk kuliah ke Semarang.
”Nih dipakai, ntar kamu masuk angin” sambil memasangkan jacket tadi ketubuhku yang mulai gemetaran karena menahan dingin.
Aku sangat terharu,mataku berkaca-kaca saat mendapati sikap nya yang masih perduli dan sangat melindungi ku bahkan disaat emosi nya masih belum lenyap atas apa yang telah aku lakukan.

                                                               ***************
Hari itu adalah hari terakhirku bertemu dengan Sandi, sebelum kejadian itu menimpanya. Sehari setelah kejadian ditaman itu Sandi langsung pulang ke Semarang tanpa memberi kabar. Aku tau dia sudah balik ke Semarang dari Ibunya, tante Mirna.
Tiga hari sudah aku dan sandi tidak lagi berhubungan setelah kejadian ditaman itu. Belasan SMS tentang penjelasan yang dia tanyakan waktu itu bahkan puluhan kali teleponku tidak pernah mendapat balasan ataupun respon dari dia.

                                                                         ****************
Disaat jam Istirahat sekolah ponselku berbunyi, aku berharap ada satu nama menelpon atau membalas smsku, tapi aku lagi-lagi kecewa, ternyata bukan dia yang menelponku.
”Hallo”dengan setengah malas aku mengangkat telepon dari nomor baru itu
”Hallo,maaf apa ini Dinda? Ini tantenya Sandi”terdengar suara lembut wanita berumuran sekitar 30 tahunan menjawab
”Iya, kenapa ya tante?”aku mulai penasaran
”Hemm..tante cuma mau mengabarkan kalau jenazah sandi sebentar lagi tiba dari Semarang”
Jenazah??jenazah siapa yang dimaksud orang diseberang sana. Apa benar dia tante nya sandi, lalu apa maksudnya dengan jenazah sandi. Sandi baik-baik aja, dia gak sakit, bahkan dia jauh lebih sehat dibandingkan aku yang mempunyai fisik lemah ini. Ini pasti ada kesalahan..yahh pasti ada yang salah..
”Maaf tante, jenazah siapa ya yang tante maksud?”aku kembali meyakinin hati dan diriku bahwa ada yang salah dengan omongan orang diseberang sana atau ada yang salah dengan pendengaranku.
”Jenazah Sandi, din. Semalam dia mengalami kecelakaan di Semarang, teman-temannya disana mengabari kalau ditempat kecelakaan ada foto perempuan, dan jenazah Sandi baru sampai pagi ini di bandara, sekarang sedang menuju kerumah.”
Brugggggg....

Semua persendianku melemah saat itu juga. Semua perasaanku bercampur menjadi satu bentuk rasa yang aneh itu lagi, perasaan dimana terdapat lobang besar yang sedang menganga melepaskan semua kesempurnaan rasa indah kedalam bentuk pekat tak berwarna.

Cobaan apa lagi ini Tuhan....batinku menjerit mendengar semua kenyataan yang mengharuskan aku untuk kehilangan orang-orang yang aku sayangi lagi. Baru sebulan yang lalu Papa meninggalkan aku, dan sekarang orang yang sangat aku cintai kembali Engkau rampas lagi dari ku Tuhan.
Sungguh ingin rasanya aku berteriak saat itu juga,semua beban terasa tertumpuk dipundakku,bahkan untuk berdiri pun aku sudah tidak mempunyai tenaga lagi.

                                                                  **************
Ditepi tanah gundukan merah dengan nisan yang bertuliskan nama Sandi Renaldi aku menumpahkan semua tangisku yang tertahan dari tadi.
”Di depan makam kamu aku akan menjelaskan semua yang tak sempat aku jelaskan waktu itu san,ya..dulu aku memang menjadikan kamu taruhan dengan teman-temanku karena kamu dulu sangat dingin,kaku,sombong bahkan terlihat sangat tidak peka dengan sekelilingmu.Dan kamu tau..kenapa aku minta hubungan kita berakhir untuk beberapa kali, sewaktu kita putus yang pertama,itu karena aku mulai takut semakin menyakiti kamu.kamu orang yang sangat baik san,fikiran mereka tentang kamu itu salah besar, dan alasan untuk putus kita yang kedua itu karena aku menyadari kamu terlalu baik untuk seseorang seperti aku,seseorang yang tidak pernah mementingkan perasaan orang lain.yah..itu lah aku yang dulu san,tapi dengan kamu..aku menyadari segala hal,aku menyadari sebuah ketulusan,kedewasaan bahkan cinta. Dan kamu tau san..diwaktu kita di taman itu,aku ingin meneruskan kalimat ku yang belum aku selesaikan , saat ini aku benar-benar menyayangi bahkan mencintai kamu,maaf,jika aku baru menyadari hal itu disaat terakhir kita.tapi aku akan tetap menjaga rasa ini untuk kamu,dan menyisakan satu ruang dihati ku yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun..



Penyesalan itu ada saat semua hal yang kita sesali tidak akan pernah kembali dan memperbaiki semuanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...