Sabtu, 11 Juni 2011

[cerbung] Indah Pada Waktunya ( Part III )


Akhirnya, aku bisa pulang juga kerumah setelah lebih kurang dua minggu menginap di rumah sakit akibat kecelakaan itu, banyak perubahan yang terjadi di rumah ini sama seperti perubahan yang terjadi dengan sikap dan keadaanku. Aku lebih senang mengurung diri di kamar, mungkin karena sekarang aku hanya bisa menggunakan kursi roda ini. Dan aku tak ingin merepotkan orang untuk menemaniku kemana-mana, jadi lebih baik aku berdiam di kamar saja, fikirku. Tiga hari sudah sepulang dari rumah sakit aku berdiam diri di kamar, sering kali Mama mengajakku untuk keluar sekedar berjalan ke taman, tapi aku terus saja menolak. Hati kecilku sangat ingin membenci keadaanku sekarang, tapi aku tidak ingin Mama melihatku seperti seorang anak lemah yang tidak berdaya.

”Sayang, Mama pergi kerja dulu..kamu baik-baik di rumah dengan Mbak Minah ya” Mama mencium keningku sebelum berangkat kerja, dan aku mengangguk serta tersenyum menjawab perkataan Mama.

”Oh iya sayang, kamu udah lama kenal dengan Sukmo?” Mama kembali membalik kearahku dan berdiri di depan pintu kamarku untuk menanyakan hal itu.

”Om Sukmo?? sejak aku kenal sama Rivo, emang kenapa Ma?” aku mulai bingung dengan pertanyaan Mama tentang Om Sukmo. Terlebih aku ingat saat Mama aku kenalkan dengan Om Sukmo di rumah sakit tempo hari.

”Gak kenapa-kenapa, Mama mau kamu janji tidak lagi berhubungan dengan Rivo ataupun Ayahnya Sukmo!” sebelum aku lebih jauh menanyakan hal ini, Mama telah berlalu pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Tak lama Mama meninggalkan kamarku, aku mendengar ketukan pintu kamarku lagi, mungkin itu Mbak Minah yang mengantarkan sarapan untukku.



”Masuk” jawabku singkat, tapi yang aku lihat disebalik pintu bukan wajah Mbak Minah, melainkan Rivo, Dika dan Merry.

”Mau ngapain lagi kalian kesini?” aku palingkan wajahku setelah aku melihat mereka datang.

”Kami bertiga cuma pengen lihat keadaan loe Rel, sekaligus mau minta maaf untuk semua hal yang udah kami lakukan” Merry menjawab pertanyaanku dan mereka bertiga mulai berjalan mendekatiku.

”Sebaiknya kalian pergi dari sini!!! kalian udah lihat keadaan gue sekarang, gue harap keadaan gue sekarang udah bisa membuat kalian puas, atau ini masih kurang ?” dengan nada sinis aku mencoba menguatkan diriku untuk berbicara dengan mereka.

Merry mendekat, dan dia setengah duduk untuk menyamai tingginya dengan kursi rodaku. ”Rel, maafin gue..gue tahu gue bukan teman yang baik buat loe, dan gue benar-benar nyesal nggak pernah ngerti alasan loe ngelakuin semua hal itu” Merry memeluk tubuhku sambil menangis menyelesaikan kalimatnya. Aku hanya mampu terdiam dan membiarkan dia memelukku.

”Gue juga mau minta maaf Rel, gue kemaren ngelakuin itu karena gue benar-benar sayang sama loe, tapi gue juga gak rela loe ngelakuin itu ke gue” Dika juga ikut menyambung perkataan Merry untuk meminta maaf.

”Udah lah, gue juga udah capek menyimpan dendam..kita lupain aja semuanya” aku mencoba melakukan sedikit hal bijak dalam hidupku. Karena aku belajar banyak dari nasehat-nasehat Mama. Karena aku juga melihat ketulusan dari raut wajah mereka, terlebih aku mendengar cerita Mama kalau mereka rutin menjengukku sewaktu aku koma di rumah sakit.

”Jadi loe maafin kita semua kan Rel?”Merry sangat antusias mendengar jawabanku tadi. Aku mengangguk dan tersenyum kearah Merry dan Dika, sedangkan Rivo yang dari tadi berdiri di sebelahku sengaja tak aku hiraukan. Karena aku masih belum tahu harus bersikap seperti apa ke Rivo. Aku mampu memaafkan sikap Merry dan Dika tapi Rivo, aku masih belum mampu melupakan sikapnya yang mempermainkan perasaanku. Merry dan Dika tersenyum kembali kearahku.

”Makasih ya Rel, gue senang banget loe mau maafin kita” Merry kembali memelukku.

”Hemm...karena Aurel udah maafin dan sepertinya ada yang mau ngomong empat mata, ehem ehemm..kita keluar yuk Dik” Dika dan Merry beriringan meninggalkan kamarku, sebelum pergi meninggalkan kamarku, Merry masih menyempatkan untuk tersenyum jahil melirik kearahku dan Rivo.

Tak lama bayangan mereka telah benar-benar tak terlihat dari kamarku meninggalkan aku berdua dengan Rivo. Sekitar satu menit aku dan Rivo masih saling diam dan tetap berdiri di tempat kami masing-masing. Sejenak aku memandangi wajah putihnya, baru aku sadari hari ini dia benar-benar terlihat tampan dengan balutan kemeja garis-garis cokelat dan selalu dengan ciri khas nya jika memakai kemeja panjang, menarik lengannya hingga ke siku.

Rivo mulai berjalan kearah meja belajarku dan mengambil toples yang berisi kunang-kunang yang dulu di berikannya kepadaku saat mengungkapkan perasaannya. Di lihatnya kunang-kunang yang hanya tampak seperti binatang kecil tanpas pesona sedikitpun, karena cahaya indahnya belum mampu untuk di lihat saat ini.



”Awalnya aku cuma di tawari untuk melakukan hal ini oleh Mery, Mendengar cerita Merry, aku mulai tertarik, karena Dika itu sepupuku. Aku sudah sangat dekat dengan Dika, Dika juga akhirnya menyetujui hal itu. Alasan kedua karena aku penasaran dengan cewek yang mampu membuat Dika yang aku tahu seorang playboy mampu sakit hati dan di permainkan sama kamu.”

Rivo mencoba tersenyum masih dengan memandangi kunang-kunang itu.

Hening sejenak.

”Tapi setelah kita saling kenal dan aku melihat sisi kamu yang sangat lain dari yang mereka katakan, aku mulai menyukai kamu. Apalagi setelah aku tahu semua tentang kamu dan alasan sikap kamu selama ini dari Mama kamu.” Rivo menatapku, kupalingkan wajahku saat itu juga.

”Aku gak pernah mempermainkan kamu Rel, semua hal yang aku lakukan itu benar-benar karena aku tulus mencintai kamu. ” Rivo menjelaskan semuanya sambil masih memegang toples yang berisi kunang-kunang tadi. Dan aku tetap diam di tempatku tanpa melihat kearahnya lagi karena aku tak ingin dia melihat aku menangis, karena kali ini aku harus bersusah payah menahan air mataku agar tidak keluar saat itu juga. Rivo mulai mendekatiku, hanya punggungku yang di lihatnya karena aku masih belum membalikkan badanku kearahnya.

”Rel, aku masih ingin menjadi cahaya dalam hidup kamu...Please Rel maafin aku dan izinin aku untuk tetap menjadi kunang-kunang yang selalu menemani dan memberi cahaya di hari-hari kamu.” Rivo kembali melanjutkan kalimatnya dan memutar kursi rodaku hingga menghadap kearahnya.

”Aku gak bisa Vo” sedikit lama aku tatap matanya dan hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulutku, air mataku masih saja jatuh padahal aku telah berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis di hadapannya.

”Jangan keluarkan air mata kamu di depan aku Rel! Aku nggak bisa lihat kamu nangis seperti ini” Rivo menyeka tetesan-tetesan air mataku yang masih berjejer di pipiku dengan kedua tangannya, sejenak aku rasakan damai yang mengisi relung di dadaku saat ini. Tapi sedetik itu juga kutepis tangan itu dari wajahku, dan kuputar kembali kursi roda ini hingga menghadap kejendela kamarku.

”Kenapa Rel, kamu masih belum bisa maafin aku? atau kamu masih nggak percaya dengan perasaan aku?” Suara itu sedikit berat aku dengar di telingaku.

Rivo kembali mendekat kearahku dan berlutut di hadapanku ”Kalau kamu masih belum bisa maafin aku, aku akan tunggu maaf kamu sampai kamu bisa maafin aku Rel, atau kalau kamu masih belum percaya dengan ketulusan perasaan aku, apa yang harus aku lakuin sampai kamu percaya kalau aku benar-benar mencintai kamu Rel?” Rivo menguncang tubuhku menunggu suaraku keluar dan memberinya alasan kenapa aku menolaknya untuk kembali kesisiku.

”AKU TETAP GAK BISA VO!! dengan nada yang sedikit keras, ku tepis lagi tangannya dari bahuku. Dan sekuat tenaga aku menjauhkan kursi rodaku dari hadapannya.



Aku sangat ingin menjawab ”ya aku mau Vo”, tapi perkataan Mama dan keadaanku sekarang membuat aku harus menjawab ini. Aku orang cacat.



”Aku gak perduli apapun yang terjadi sama kamu Rel, aku tetap sayang sama kamu” Rivo kembali meyakinkan aku akan perasaannya

Bukannya aku tidak mempercayainya, tapi aku tidak ingin menjadi seseorang yang egois dengan hanya mementingkan perasaanku sendiri. Rivo pantas mendapatkan orang yang jauh lebih baik dan bukan orang cacat sepertiku. Dengan susah payah, akhirnya aku berhasil menyuruh Rivo pergi dari rumahku.



***********



Dia adalah seseorang yang mampu membuat aku benar-benar merasakan perasaan yang aneh untuk pertama kalinya. Saat pertama kali bertemu dulu, dia menertawakan kesialanku di kantin kampus.

Tawanya yang manis, rambut hitam lurusnya yang selalu di biarkannya di terpa angin saat iya berjalan, bahkan matanya yang sedikit sipit membuatnya seperti gadis oriental. Dan aku menyukai semua hal yang ada padanya.



“Ohh, loe..ya ada lah! Masa gue ketawa gak jelas, hemmm..perlu tissue? “

“Okay, ini tissue buat loe”



Saat tragedi penyiraman yang memalukan itu, itulah pertama kalinya ada seorang cewek yang berani menertawakan aku. Biasanya semua cewek berlomba-lomba untuk dekat denganku, walaupun hanya sekedar menyapaku. Sedangkan dia, bahkan berani menertawakan aku. Itulah hal pertama yang membuat aku tertarik dengannya.



”Okey, apa yang mau loe tau tentang gue?”

“Hem..gak banyak kok, Cuma nama lengkap, alamat, tanggal lahir, status, nomor telepon, jumlah saudara, terus…”

“HEHH!!! Loe kira mau bikin akte kelahiran nanyain kayak begituan?”

“Hahhahhhaa..loe lucu juga ya Rel, BTW ntar malam loe ada acara gak?”

”kenapa emangnya?”

”Gak, cuma mau ngajakin loe jalan. Kayaknya menyenangkan bisa jalan sama cewek lucu kayak loe”

”loe kira gue badut!!”



Kejadian-kejadian beberapa bulan yang lalu, saat pertama kali aku mengenal sosok Aurelia Pramitha kembali membuat aku tersenyum. Walaupun aku harus kembali mengingat bahwa dulu dia hanya memanfaatkan semua ketulusanku, ketulusan yang untuk pertama kalinya di berikan oleh seorang cowok playboy sepertiku, karena memang dia satu-satunya cewek yang berhasil membuat aku benar-benar menyayanginya dengan tulus. Dan dari situlah aku mengerti bagaimana rasanya sakit di campakkan, seperti yang telah aku lakukan dulu pada semua cewek yang juga aku campakkan sesuka hatiku. Awalnya aku tidak terima dia memperlakukan aku seperti itu, sampai aku sangat bersemangat saat Merry dan sepupuku Rivo ingin melakukan hal yang sama seperti apa yang telah dia lakukan terhadapku saat itu. Puas? Aku tidak pernah merasakan itu saat dia terluka bahkan sakit atas apa yang telah kami rencanakan. Bahkan aku sangat sakit saat melihat dia terbaring koma di ruangan rumah sakit itu. Aku Dika Frans Aditya benar-benar sangat menyayangi dan mencintai dia, Aurelia Pramitha.





To be continued…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...