Sabtu, 11 Juni 2011

[cerbung] Indah Pada Waktunya ( Part 4 )


Di saat aku memulai mempercayakan hatiku, di saat aku berani lagi mengikat tali sepatuku tuk lebih kuat lagi, berlari mengejar semua yang telah tertinggal selama aku berada dalam sepi , sunyi, dendam, kemarahan dari kehidupan masa lalu yang selama ini selalu mengancamku untuk bisa tersenyum dan bahagia. Dan sesaat ini juga aku harus mampu melepaskan itu semua. Well..Keadaan sudah sangat berhasil memporak-porandakan hidupku, dan keyakinanku bertambah bahwa dunia memang punya rencana (jahat) yang sukses membuat aku kembali di garis bawah sebagai looser di hidupku sendiri.

Tak terasa waktu yang kulewatkan begitu saja dengan hanya berdiam diri di kamar. Kumatikan lampu kamarku dan kuperhatikan kunang-kunang pemberian Rivo, lama kupandangi kunang-kunang itu. Tanpa terasa air mataku jatuh mengingat pertama kali saat Rivo memberikan kunang-kunang ini dan berjanji akan menjadi cahaya indah dalam hidupku.



”Kenapa lampunya dimatiin Rel?” tiba-tiba Mama sudah ada di kamarku dan menghidupkan kembali lampu kamarku
”Gak kenapa kok ma, cuma mau lihat cahaya kunang-kunang aja”
”Udah malam, kamu istirahat lagi ya nak?” sambil membaringkan aku ketempat tidur, Mama menyelimutiku.
”Ma, apa Mama kenal sama Om Sukmo?” Mama terlihat sedikit kaget mendengar pertanyaanku.
”Yang Mama tahu, mereka gak baik. Jadi Mama harap kamu benar-benar tidak berhubungan lagi dengan Rivo ataupun Papa nya.”
”Tapi ma, Om Sukmo itu baik sama Aurel”
”Mama bilang jangan ya JANGAN!!!! Nada suara Mama terdengar sedikit keras dan membentakku. Aku jadi semakin penasaran kenapa Mama jadi bersikap aneh sejak bertemu dengan Om Sukmo di Rumah Sakit waktu itu. Aku melihat ada sesuatu hal yang Mama sembunyikan tentang hal ini. Mama meninggalkan kamarku dan kembali mematikan lampunya.
______________

”Aurel..udah pagi,bangun sayang! Hari ini jadwal kamu terapi” Mama membuka gorden kamarku dan membiarkan sinar matahari masuk kekamarku. Melihatku masih nyaman berada di tempat tidurku tidak bergerak sedikitpun, Mama mengusap lembut kepalaku untuk membangunkan tidurku yang terlihat sangat lelap.
”Emmmm..iya ma, Aurel masih ngantuk” kutarik lagi selimutku dan hendak melanjutkan kembali tidurku, tapi belum sempat selesai sampai selimutku menyelimuti seluruh tubuhku, tangan Mama malah menarik melepaskan selimut itu menjauh.
”Ayo sayang..katanya kamu mau sembuh, itu Dika udah nungguin kamu dari tadi”
”Apa ma? Dika??” dengan setengah kaget mendengar perkataan Mama aku coba mengumpulkan sisa-sisa nyawaku yang masih belum sepenuhnya terkumpul karena masih saja mataku memaksa untuk terpejam, kenapa Dika tiba-tiba tau kalau hari ini jadwal aku terapi. setengah malas aku bangun dan Mama mengantarkan aku kekamar mandi.
”Udah siap Rel?” Dika menyapaku setelah aku selesai siap-siap untuk berangkat terapi, Mama mengantarkan aku keruang tamu. Di sana Dika telah duduk manis menunggu aku.
”Kamu diantar Dika aja ya sayang, Mama harus kekantor sekarang” Mama akhirnya menjelaskan kenapa bukan Mama yang mengantarkan aku untuk terapi.
Hampir satu jam Dika menunggu aku selesai terapi, Hubunganku dengan Dika sekarang memang sudah membaik. Aku masih melihat perhatian dari sikap Dika untukku, tapi aku tidak ingin menyalah artikan sikap dan perhatian Dika itu.

___________

Lebih kurang udah sebulan Dika mengantar dan menjemput aku untuk terapi, dan perkembangan kesehatan kakiku sudah cukup membaik. Perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit kakiku sekarang sudah bisa di gerakkan. Sedangkan Rivo, masih saja aku menghindar bertemu dengannya. Beberapa kali dia kerumah tapi aku tidak ingin bertemu dengan dia karena aku tidak ingin memupuk kembali perasaan ini. Walaupun sebenarnya aku masih sangat membutuhkan kehadirannya di saat-saat sekarang ini. Tapi malah Dika yang selalu menemani saat aku sedang membutuhkan sesuatu.

************

Aku bahagia saat ini, saat orang yang aku cintai mengajakku untuk pergi bertemu dan mengatakan ingin membicarakan sesuatu hal padamu. Seakan-akan semua warna pelangi ada terlukis di wajahmu. Indah, bahagia, bahkan semua kata-kata tak mampu untuk menggambarkan perasaan untuk hal itu. Hari ini, Dika meminta aku untuk menemuinya. Semua isi lemari aku keluarkan hanya untuk mencari satu baju yang cocok untuk aku pakai siang ini saat menemui Dika. Berlebihan?? Ahh..itu hanya menurut kalian, kamu pernah memimpikan seseorang? seseorang yang kamu idam-idamkan selama ini, dan tiba-tiba dia mengajakmu untuk bertemu. Spechlees?? Yahh..itu aku rasakan saat ini. Jadi jika hanya membongkar isi lemariku itu masih cukup wajar menurutku.

Hari ini aku menerima sebuah pesan singkat yang muncul di ponselku dan mengajakku untuk bertemu. Setelah aku melihat nama pengirimnya, ternyata seorang cowok yang selama ini hanya mampu aku kagumi dengan mencoba hanya menjadi teman untuknya. Ya, hanya seperti itu, karena seorang temanku telah bernasib mujur dan mendapatkan dia. Bukan!! Aku bukan seorang teman yang tidak tahu diri dan mencoba merebut pacar temanku. Tapi sebenarnya, temankulah yang mengambilnya dariku, bukan juga sepertinya, karena temanku tidak pernah tahu bahwa aku menyukai cowok itu. Tapi aku tetap tidak rela!!! Tidak rela jika dia merampas seseorang itu dariku bahkan jika seseorang yang benar-benar aku cintai, ternyata hanya di jadikan sebuah boneka dan di manfaatkan oleh temanku!!

Aku setengah jam lebih cepat datang dari waktu yang telah di janjikan, karena terlalu bahagia sebentar lagi bertemu dengan seseorang yang telah lama aku harapkan dan hari ini ternyata terjadi juga, saat seseorang yang sangat aku cintai itu mengajakku, walau aku tidak tahu pasti alasannya mengajakku untuk bertemu. Aku norak?? Ya mungkin itu yang ada difikaran kalian saat ini. Tapi nanti kamu akan melakukan hal yang sama jika kamu merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini.

Sudah hampir satu jam aku menunggunya disini, itu artinya setengah jam lewat dari waktu yang di janjikan, dia belum juga datang, tapi aku masih sabar menunggunya. Karena waktu ini lah yang sudah lama aku harapkan. Sejenak terdengar lagu Jika cinta dia dari Geisha di tasku, ponselku berbunyi tanda pesan masuk. Ternyata dari Dika, aku membuka pesan itu, mungkin dia sedikit terlambat, dan mengabari hal itu. Fikirku.

From : Dika
Mer, Maaf ya..janji kita terpaksa gue batalin
gue mau ngantar Aurel terapi, nggak apa-apa kan Mer? Maaf ya..

Sejenak itu juga semua rasa bahagia yang aku rasakan tadi berubah menjadi perasaan sedih dan kesal. Bukan karena dia tiba-tiba membatalkan janji ini, tapi karena dia membatalkannya demi seseorang yang dulu telah mepermainkannya dan menjadikannya boneka. Kenapa dia masih saja perduli dengan orang yang telah mempermainkannya itu!! Kenapa dia tidak mampu melihat ketulusan yang selama ini aku berikan, bahkan sangat jauh lebih baik dari yang diberikan temanku itu padanya. Tak lama ponselku kembali mengeluarkan bunyi yang sama, tanda pesan masuk lagi, padahal aku belum membalas SMS dari Dika.

From : Dika
Oya Mer, gue tadi mau ngajakin loe ketemuan karena gue senang banget, gue bisa dekat lagi dengan Aurel!! Makasih ya udah mau dengerin cerita gue selama ini. Gue sayang banget sama Aurel, Mer. Dan gue udah mutusin pengen ngajakin dia buat balikan.
Doain ya..

Selesai aku mebaca kalimat terakhir dipesan itu. Wajahku terasa begitu hangat, saat tiba-tiba dua baris menyentuh pipiku dan mengeluarkan air yang deras mengalir disudut wajahku. Kamu menyuruh aku mendoakan itu, tapi aku tidak mampu melakukan itu Dik.

***********

”Untuk apa kamu kesini Sukmo?”
”Saya hanya ingin bertemu dengan Aurel, Rosi”
” Saya harap kamu menjauh dari hidup Aurel!”
”Apa Aurel itu anak kita?”
”Anak kita??  dia anak saya. Kamu lupa, saya yang membesarkan dia sendirian sejak dia lahir Sukmo.”
”Saya minta maaf Ros”

Saya sangat ingin memungut puing-puing yang dulu Ros, jika kamu tahu, saya juga sangat menderita melepaskan kamu karena perjodohan itu. Karena hutang budi yang tak berkesudahan dan mengharuskan saya untuk menerima perjodohan yang telah diatur oleh mereka. Saya juga hancur, Bahkan lebih hancur karena saya tidak mampu memperlihatkan kehancuran itu, dan hanya menyimpannya untuk diri saya sendiri.

”Sudah lah, maaf kamu juga sudah terlambat, dan saya harap anak kamu Rivo menjauhi Aurel! Karena buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Saya tidak ingin Aurel merasakan apa yang saya rasakan dulu.”
”Apa Aurel tahu kalau saya Ayahnya?”
”Jangan berharap terlalu banyak Sukmo, karena dia telah menganggap Ayahnya sudah benar-benar tidak ada. Dan jika dia tahu kamu adalah Ayahnya, saya yakin dia tidak akan pernah lagi ingin melihat kamu”
”Kenapa kamu memupuk rasa bencinya terhadapku, Rosi?”
”Aku tidak pernah memupuk ataupun menyuruhnya untuk membenci Ayahnya, kamu lupa dia telah beranjak dewasa Sukmo. Dia tahu dan mampu membaca keadaan yang telah terjadi selama ini.” terdengar nada suara yang cukup meninggi dan menyimpan keangkuhan.

Aku tanpa sengaja mendengar percakapan antara Mama dan Om Sukmo saat hendak mengambil minum kedapur. Apa yang baru saja aku dengar tadi, apa ini alasan Mama melarang aku untuk berhubungan dengan Rivo dan Om Sukmo. Kenapa Mama tidak berterus terang kalau Om Sukmo itu adalah Ayah kandungku.

Luka yang dulu aku tutup rapat, dan sekarang aku merasakan luka itu kembali menganga, bahkan terasa seperti di beri asam. Kembali pedih aku rasakan, tapi hati kecilku mengatakan bahwa mereka juga telah sekaligus memberikan asam itu sebagai obat yang aku cari selama ini, obat dari rasa keingintahuanku terhadap sosok yang selama ini aku rindukan, sebenarnya. Terasa pedih awalnya, tapi bongkahan besar di dadaku terasa diangkat sesaat itu juga, sewaktu aku mendengar pembicaraan mereka. Akhirnya aku mengenali sosok ayah yang aku cari selama ini. Tapi, sebuah rasa lain kembali menyeruak meminta rasa itu tetap berada diatas, rasa kebencian, sedih di campakkan, bahkan rasa kemarahanku yang aku simpan selama ini untuk satu sosok itu.

Gelas yang dari tadi berada di genggaman tanganku tiba-tiba terjatuh tanpa aku sadari, sontak mereka berdua melihat kearahku. Mereka terlihat sangat kaget melihat aku ada di dekat mereka. Entah beberapa detik kami bertiga saling pandang, sebelum aku mampu menguasai diriku setelah mendengar percakapan antara Mama dan Om Sukmo tadi.

”Ini gak benar kan ma??” aku mencoba meyakini setiap kalimat yang aku dengar tadi. Mama hanya mampu terdiam mendengar pertanyaanku.
”Aurel....ini Papa nak” Om Sukmo mencoba mendekatiku dan hendak memelukku. Tapi aku menjauhkan kursi rodaku karena aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Dan jika memang itu benar, sungguh aku tidak tahu harus bagaimana menerima ini semua. Aku ayunkan tanganku untuk mendorong kursi roda ini sekuat tenaga menuju kamarku, dan akhirnya aku berhasil sampai. Aku kunci pintu kamarku dan aku tak hiraukan Mama dan Om Sukmo yang memanggil-manggil nama ku dari luar.

************

”Pokoknya kalian harus bisa ngerjain semua yang saya bilang tadi!!” Suara perempuan itu yang sedang berbicara dengan dua orang laki-laki separuh baya.
”Tenang bos, kami udah mengerti kok apa yang harus kami lakukan”
”Oke, ini untuk kalian..sisanya nanti saya transfer kalau kalian melakukan pekerjaan itu dengan baik”
”Makasih bos,,wahh..senang bisa kerjasama sama loe bos” setelah melihat isi amplop salah seorang laki-laki separuh baya tadi memasukkan amplop itu ke saku celananya, dan mereka pergi meninggalkan perempuan itu.

to be continued..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...