Sabtu, 14 Mei 2011

Pantaskah!!!!!

Disaat mentari baru ingin menyeruak kepermukaan,embun juga masih tampak membasahi dedaunan. Bahkan sorak-sorai ayam turut terdengar membangunkan berpasang-basang mata sayu mereka yang masih memberontak untuk terjaga. Udara pagi ini terasa begitu dingin,jelas saja….semalam derai hujan menyapu debu-debu lepas itu. Tapi itu semua tak menyurutkan langkah ku untuk berserah diri kepada Sang Maha Pencipta dan menunaikan kewajiban ku sebagai seorang hambaNya.
Langkahku sejenak terhenti,mata ku memandang nanar tubuh tua nan lusuh tampak terkulai lemas tanpa alas terlelap disudut deretan ruko-ruko yang tak berpenghuni.
*********** 

 
Pemandangan seperti itu mungkin sering kita temui disekitar kita,bahkan terlebih lagi dikota-kota besar yang jauh lebih kejam dibandingkan hanya sebuah kota kecil dimana aku dan keluargaku menumpang hidup saat ini.
Tapi mengapa dikota ku yang bukan sebuah kota metropolitan ini juga aku temui sosok-sosok lemah seperti dia. Pemandangan itu sungguh mengais nilai-nilai kemanusiaan ku,meskipun aku juga tak tau pasti harus berbuat apa-apa nantinya,ku dekati sosok tak berdaya itu masih tetap mampu terlelap diantara dingin nya udara pagi yang mungkin juga dia rasakan menusuk hingga tiap persendiannya. Jantungku sejenak terhenti memandangi jelas wajah bapak tua lemah itu, ternyata dia bukan gelandangan seperti yang aku fikirkan. Dia adalah Ayah dari 6 orang anak yang tinggal tidak jauh dari rumahku yang berumur kira-kira 70 tahunan.
Puluhan pertanyaan menari dibenakku,,apa yang terjadi dengan bapak tua ini,mungkin kah sesuatu hal buruk terjadi padanya,perlahan aku bangunkan bapak tua itu tanpa bermaksud mengusik nya.
****************
”Bapak kok bisa tidur disana?” Setelah mengajaknya kerumah,serta memberinya secangkir teh hangat saya memulai perbincangan dengan bapak tua itu.
”iya,anak saya tidak mau mengurus saya,mereka membenci saya karena saya telah menikah lagi”
”lalu istri baru bapak kemana?”orang tua saya juga tidak ketinggalan untuk bertanya.
”istri saya telah membawa kabur semua harta yang saya punya,bahkan telah menjualnya”
Kisah-kisah seperti ini sering saya temui di sinetron-sinetron yang selalu menyita waktu ibu-ibu yang ditayangkan setiap hari dilayar TV. Awalnya saya pikir kisah dramatis seperti itu hanya khayalan fiksi sang sutradara, tapi kali ini saya menjumpai scene demi scene pada panggung drama kehidupan anak manusia.

**************

Ironis memang,seorang Ayah yang memiliki 6 orang yang anak-anaknya hidup diatas garis kemiskinan, bahkan berkecukupan tega menyia-nyiakan Sang Ayah terbaring kedinginan disudut-sudut ruko hanya karena sedikit keselahan yang telah dilakukan oleh sang ayah tersebut.
Apa ini yang dimaksud oleh pribahasa yang sering saya dengar sewaktu
saya masih mengecap bangku sekolahan dan memakai seragam dulu..
”karena nila setitik rusak susu sebelanga”
Sungguh sangat tidak adil jika pribahasa itu dihubungkan pada kisah bapak tua ini,kemana naluri bahkan hati nurani semua anak nya.
Mungkin memang saya bukan dalam kapasitas untuk menjudge seseorang salah dalam bertindak atau bersikap kepada orang tuanya,toh saya juga sadar belum mampu berbuat banyak kebaikan kepada orang tua saya. Tapi sungguh saya sangat menyayangkan sikap ANAK yang seperti ini, dimana KEDEWASAAN mereka yang sudah terbungkus oleh usia matang nya.Apa tidak pernah terbesit dihati mereka atas dasar apa ilmu bahkan harta yang mereka punya saat ini kalau bukan karena jasa AYAH MEREKA!!
Bukan kah tugas Sang ayah menugur anaknya jika melakukan kesalahan dan juga tugas seorang anak mengingatkan orang tua jika mereka juga melakukan kesalahan. Bukan kah Tuhan(Allah) mengajarkan kita untuk memaafkan,bukan malah menyia-nyiakan mereka. apalagi terhadap orang tua yang jauh lebih mulia dari siapapun orang yang kamu kenal didunia ini. sekali lagi saya menanyakan kemana HATI NURANI MEREKA??? Apa mereka mempunyai HAK untuk menyia-nyiakan orang tua nya? Apa yang terjadi jika waktu diputar kebelakang dan orang tua mereka yang menyia-nyiakan mereka ??

Sebagai seorang anak yang juga belum mampu membahagiakan orang tua saya,saya hanya mencoba mengingatkan bahwa kita ”ANAK” sampai kapan pun tidak akan pernah mampu membayar semua kebaikan orang tua yang telah merawat kita dari bayi.jadi jangan pernah sekalipun menyakiti apalagi menyia-nyiakan mereka.Seberapa besarpun kesalahan yang pernah mereka lakukan,kita tidak akan pernah bisa memungkiri bahwa mereka tetaplah ORANG TUA yang WAJIB kita sayangi bukannya untuk DISIA-SIAKAN.
*Semoga Allah memberikan kesadaran kepada ANAK bapak tua itu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...