Jumat, 20 Mei 2011

[Cerbung] Indah Pada Waktunya ( Part II )


“Ini semua salah kita” ucapan Rivo terdengar penuh penyesalan.
”Tapi kan vo....”
”Udah lah Dik, lo masih belum puas lihat dia terbaring koma didalam” Rivo memotong kalimat Dika sebelum Dika menyelesaikan kalimatnya.
”Gue juga udah jahat banget sama Aurel” Merry melihat kedalam ruang ICU dengan mata berkaca-kaca.
”Apa yang terjadi Mer? kenapa Aurel? gimana keadaan Aurel mer?”terdengar suara dari ibu rosi, ibu dari seorang yang terbaring koma didalam ruang ICU itu dengan nada panik.
”Aurel....koma tante” dengan berhati-hati dan sambil memeluk ibu rosi Merry menyelesaikan kalimatnya.
Ibu rosi terlihat sangat histeris dan hampir terjatuh, untung tangan Rivo sigap menangkap sebelum tubuh ibu rosi terjatuh dan hampir pingsan karena melihat keadaan putri yang dia sayangi terbaring koma didalam.
Setelah melihat keadaan ibu rosi cukup kuat, Merry, Dika dan Rivo menceritakan kejadian sebelum kecelakaan yang menimpa Aurel. 


”Ini semua salah tante” terdengar nada penyesalan dari suara ibu rosi
”Tante yang tidak mampu memberikan pengertian pada Aurel agar tidak menyalahkan keadaan dan masa lalu keluarga kami”
”Maksud tante?” Rivo mulai bingung dengan pernyataan ibu rosi, Dika dan Mery juga terlihat bingung.
”Iya, tante tahu dulu Aurel suka gonta ganti pacar, dan setiap tante tanya Aurel selalu bilang dia tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta, karena dulu ayahnya meninggalkan kami berdua menghilang entah kemana, setelah itu Aurel juga ditinggalkan pacar nya.” Ibu Rosi menceritakan alasan atas sikap Aurel selama ini.
”Jadi, karena itu Aurel melakukan semua ini tante?”Merry mulai mengerti dengan sikap dan kelakuan Aurel selama ini.
”Iya mer, walaupun tante tau sikap Aurel itu salah..tapi tante tidak bisa berbuat apa-apa. Tante sudah berusaha  memberi pengertian pada Aurel, tapi kebenciannya udah terlampau besar. Belakangan tante senang karena Aurel cerita kalau dia sedikit demi sedikit udah mampu melupakan kemarahannya, karena dia udah menemukan orang yang benar-benar dia sayangi” sambil melirik kearah Rivo, Ibu Rosi kembali melanjutkan ceritanya
Dan akhirnya Dika, Merry dan Rivo mengerti alasan kenapa Aurel bersikap seperti itu, sekarang yang ada hanya sebuah penyesalan yang tergurat diwajah mereka masing-masing.
”Rel, kamu bangun yah..aku minta maaf sama kamu. Kamu boleh caci maki aku atau kamu juga boleh pukulin aku asalakan kamu buka mata kamu ya rel.” tampak butiran air mata terjatuh dari mata Rivo, sambil memegangi tangan Aurel, Rivo mencoba mengusap rambut orang yang telah benar-benar membuatnya jatuh cinta dan membuatnya juga terperangkap oleh permainan yang telah dibuatnya bersama Dika dan Merry.
Sudah lebih seminggu Aurel masih saja terbaring belum sadar diruangan ini, Rivo, Dika dan Merry rutin menjenguknya baik bersama-sama ataupun sendirian seperti yang dilakukan Rivo saat ini.
Perlahan mataku membuka kelopaknya, kesadaranku mulai pulih. Ughh…seluruh tubuhku terserang rasa nyeri yang begitu hebat, kepalaku pun seperti terpukul gada besar. Aku terbaring di atas tempat tidur diruang serba putih dan terbungkus selimut garis-garis biru tua, padahal seingatku terakhir kali aku tak di sini..
”Kamu udah sadar rel?” terdengar oleh ku suara Rivo terlihat begitu senang melihat aku sudah mulai sadar.
”Aku dimana?” aku coba kembali menguatkan tubuhku untuk menanyakan hal itu pada Rivo.
”Kamu dirumah sakit rel, seminggu yang lalu kamu kecelakaan” Rivo menjelaskan apa yang telah terjadi pada ku sehingga aku bisa sampai di ruangan ini.
Aku mencoba mengingat  semua hal yang terjadi sebelum aku mengalami kecelakaan itu.

”hahhahhaha....gue gak nyangka loe mampu bikin Aurel benar-benar cinta sama loe” suara itu adalah suara Dika yang sedang tertawa lepas.
”iya vo, ternyata apa yang susah payah kita rencanain berjalan dengan sukses ya berkat loe vo..” Merry juga ada disini
”jadi kapan loe campakin dia vo..oppss, mutusin dia maksud gue..hahahahahha” Dika kembali melanjutkan kalimatnya, sangat jelas kebahagian dari setiap kalimat mereka.
”gue belum tahu, tapi gue ngerasa bersalah sama dia”
“dia emang mesti dapat pelajaran vo, dia dulu juga sering ngelakuin itu sama cowok-cowok,, tuh si Dika salah satunya..hahhahhaa” Merry juga sangat terlihat bahagia dengan pembicaraan itu.
Jadi ini yang mereka rencanakan, Merry, Dika dan Rivo..jadi ini semua scenario ciptaan mereka untuk seorang Aurel. Jantung ku tak terasa berdetak lagi saat ini, air mata juga tak mampu keluar memikirkan semua sikap mereka, nafas ku seakan tak mampu lagi untuk keluar mendengar semua percakapan mereka tadi. Masakan yang sepenuh hati sengaja aku masak dari pagi untuk hari special bahkan terasa sangat special saat ini mendengar obrolan dari orang-orang yang sangat dekat dengan ku. Semua makanan itu terlepas begitu saja dari tangan ku, tatapan mereka beradu dengan tatapan ku saat ini. Aku tak sanggup berlama-lama disini, ku langkahkan kaki ku sekuat tenaga untuk meninggalkan tempat itu. Aku lihat Rivo mengejarku. Tapi aku terus saja berlari, tak tau lagi kemana arah ku untuk berlari, air mataku baru mampu keluar saat ini, aku sudah lelah untuk berlari..tapi langkahku tak juga mengizinkan aku untuk berhenti berlari, tak ada lagi yang mampu aku lihat jelas sehingga tak sedikitpun aku melihat mobil itu ada di arah yang berlawanan dari tempat aku berlari.
“Aurel……………..” terdengar samar oleh ku teriakan Rivo diseberang sana. Tubuhku terasa melayang bebas keudara, dan terhempas kembali, sakit bahkan sangat sakit dengan ditambah rasa sakit yang aku rasakan tadi. Sejenak sebelum kesadaran ku benar-benar hilang sepenuhnya aku melihat mereka mengelilingi aku, bahkan juga ada Rivo, Dika dan Merry. Kenapa mereka mengelilingiku? padahal aku ingin berlari lagi, pergi sejauh-jauhnya dari mereka. Dan sedetik setelah itu kesadaran ku sudah menghilang sepenuhnya.

Aku mulai mengingat hal terakhir sebelum kecelakaan itu menimpaku, rekaman semua kejadian itu seperti diputar ulang kembali dalam memori ku, betapa bencinya aku melihat sosok didepan ku sekarang setelah aku mampu mengingat semuanya.. Aku mulai menatap dengan penuh kemarahan kearah Rivo. Sejenak dia mulai menyadari maksud dari tatapan kemarahan ku itu.
”Maafin aku rel..aku tahu kamu pasti benci sekali sama aku..tapi sekarang aku benar..”
”Pergi kamu dari sini!!!!” sebelum Rivo menyelesaikan semua kalimatnya aku mengusirnya dari hadapanku, mungkin dia paham saat ini aku masih tidak ingin melihat nya setelah apa yang dia, Merry dan Dika lakukan terhadapku. Aku mulai muak melihatnya, walaupun hati kecilku sangat ingin dia tetap ada disampingku saat ini. Tapi kemarahanku jauh lebih besar untuk mengalahkan hati kecilku yang masih sangat menyayanginya.  Tanpa terasa air mataku jatuh, jauh lebih deras sebelum aku menangis pertama kali mendengar semua yang telah mereka rencanakan terhadapku. Tapi disatu sisi aku sadar kalau ini semua adalah karma untukku atas apa yang telah aku lakukan sebelumnya.
”Kamu udah sadar sayang?” mama mendekatiku dan mama terlihat sangat senang melihat aku telah siuman.
”Ma, kenapa kaki aurel terasa sakit sekali” aku tidak bisa menggerakkan kaki ku, terasa kelu bahkan hampir tanpa rasa jika disentuh.
”Hem..kamu lapar atau haus sayang?” mama malah mengalihkan pembicaraanku, dan aku paham pasti ada yang tidak beres dengan kaki ku
”Gak ma, ma..kaki Aurel kenapa?” aku berusaha bangun dan hendak melihat kaki ku untuk memastikan kaki ku baik-baik saja. Tapi sebelum aku membuka selimut ini untuk memastikannya, tangan mama menghalangiku untuk membukanya.
”Kaki kamu baik-baik aja sayang, kamu istirahat dulu ya” mama menyelimuti ku kembali, dan aku mencoba memejamkan mataku berharap nanti disaat aku bangun sakit dikakiku akan berkurang. Tapi sakit dikaki ku tidak juga berkurang, mama tak lagi ada didekatku, sejenak aku berfikir aku bisa leluasa membuka  selimut yang menutupi kaki ku untuk melihat keadaan kaki ku saat ini. Aku buka selimut yang menutupi kaki ku. Kaki ku dipenuhi banyak perban yang melilitnya, membungkusnya dan hanya meninggalkan jari-jari kaku ku saja yang terlihat tanpa lilitan perban itu. Apa kaki ku.........
”Ini gak mungkin..mamaaaaaa...........”aku setengah berteriak memanggil mama sambil menangis melihat keadaanku
”Sayang,,kamu kenapa?”
”Ma, tolong jawab yang sebenarnya..kaki Aurel kenapa?”
”Aurel akan lumpuh selamanya ma?”  aku menahan agar air mataku tak jatuh lagi, tapi aku tak mampu menahan itu semua. Apa masih belum cukup semua yang terjadi pada ku sebelum ini, kenapa Tuhan masih menambah cobaan ini kepada ku, aku gak sanggup kalau harus lumpuh Tuhan. Aku tahu semua dosa yang telah aku lakukan, aku juga  paham kebiasaan buruk ku menyakiti perasaan orang-orang. Tapi apa harus seberat ini hukuman Mu..aku masih belum mampu menerima semua keadaan ini. Apalagi ditambah aku harus menjadi cacat. Aku tak mampu lagi membendung semua tangis ku.
”Gak sayang, kamu masih akan bisa berjalan lagi..kamu harus yakin itu..” mama mencoba menghibur ku dan mulai meyakini keadaan ku akan baik-baik saja. Walau aku tahu, mungkin itu hanya sebuah kalimat hiburan dari seorang ibu kepada anaknya.
”Aku tidak mau jadi orang cacat ma.....” aku kembali menangis sejadi-jadinya dipelukan mama, hanya pelukan mama saat ini yang dapat menenangkan aku. Mama mengusap rambutku perlahan mencium keningku, ya..aku akan kuat jika mama selalu ada didekatku.

”Mama mau ketemu dokter dulu ya rel” mama melepaskan pelukannya setelah melihat aku sedikit lebih tenang. Aku mengangguk mengiyakan perkataan mama. Setelah mama meninggalkan ruang perawatanku, aku melihat Om Sukmo datang dan mendekati ku.
”Kemaren om dengar kamu udah sadar dari Rivo, jadi om usahain melihat kamu kesini” Om Sukmo meletakkan buah dan bunga yang dibawanya keatas meja disebelah tempat tidur ku.
”Iya om, makasih ya om..aku senang om masih mau perduli sama aku”
”Maafin Rivo ya rel, om udah tahu semuanya. Dan om sangat marah saat om tahu apa yang udah dilakukan Rivo sama kamu”
Aku berusaha tersenyum mendengar perkataan om Sukmo, tak lama aku melihat mama datang dan mendekati aku dengan Om Sukmo.
”Ma, kenalin ini om Sukmo ayahnya Rivo yang sering aku ceritain sebelumnya” aku memperkenalkan mama dengan om sukmo, tetapi mama terlihat sangat kaget melihat om sukmo, begitu juga sebaliknya. Tatapan mama terlihat begitu penuh kebencian melihat kearah Om Sukmo, mama dan om Sukmo beriringan meninggalkan ruang perawatan ku. Dan meninggalkan aku dengan kebingungan atas sikap mereka.

To Be Continued..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...